JAKARTA – Ada yang berbeda dari Minggu pagi yang cerah pada 9 Agustus 2026. Di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, langkah-langkah penuh semangat terlihat sejak pagi buta. Rombongan murid, guru, dan karyawan dari Kompleks Strada Pejompongan — yang mencakup jenjang Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) — berjalan bersama menuju Gereja Kristus Raja, Paroki Pejompongan. Bukan untuk sekadar menghadiri Misa seperti biasa, melainkan untuk menjalankan sebuah tugas istimewa: melayani sebagai tim Paduan Suara dalam Perayaan Ekaristi Kudus.
Peristiwa ini bukan sekadar kegiatan rutin sekolah. Bagi keluarga besar Strada Pejompongan, pelayanan liturgi di gereja paroki merupakan salah satu wujud nyata dari semangat Serviam — motto yang berarti “Aku Mau Melayani” — yang telah menjadi fondasi pendidikan di sekolah-sekolah Strada sejak awal berdirinya. Semangat ini mengajarkan bahwa pendidikan yang sejati tidak hanya membentuk pikiran yang cerdas, tetapi juga hati yang mau melayani Tuhan dan sesama.
Perayaan Ekaristi yang Khidmat dan Penuh Sukacita
Perayaan Ekaristi pada hari itu dipimpin langsung oleh Romo Yohanes Subagyo, Pr., pastor yang dikenal dekat dengan komunitas pendidikan Katolik di wilayah Pejompongan. Dalam homilinya, Romo Yohanes menekankan pentingnya mempersembahkan talenta yang telah Tuhan anugerahkan sebagai bentuk syukur dan pelayanan. Pesan ini terasa sangat relevan, mengingat di hadapan altar saat itu berdiri puluhan murid, guru, dan karyawan Strada Pejompongan yang siap mempersembahkan suara mereka sebagai pujian kepada Tuhan.

Ketika nada pertama dari lagu pembuka mengalun, suasana gereja seketika berubah. Suara-suara yang telah dipersiapkan dengan penuh kesungguhan itu bergema memenuhi setiap sudut Gereja Kristus Raja. Perpaduan suara anak-anak TK yang polos dan ceria, murid-murid SD yang mulai matang dalam bernyanyi, serta remaja-remaja SMP yang membawa kekuatan dan kedalaman emosi, menciptakan harmoni yang indah dan menyentuh hati. Ditambah dengan suara guru dan karyawan yang menjadi penopang harmoni, paduan suara ini menjadi persembahan yang sungguh istimewa.
Umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi tersebut tampak sangat terkesan. Beberapa jemaat terlihat menutup mata, meresapi setiap bait lagu yang dinyanyikan. Tidak sedikit pula yang memberikan tepuk tangan hangat dan senyum penuh apresiasi ketika paduan suara menyelesaikan pelayanan mereka. Momen-momen seperti inilah yang menunjukkan bahwa musik liturgi yang dibawakan dengan hati yang tulus mampu menjadi jembatan antara manusia dan Tuhan, sekaligus mempererat ikatan persaudaraan dalam komunitas iman.

Lebih dari Sekadar Nyanyian: Pendidikan Karakter Berbasis Iman
Bagi Kompleks Strada Pejompongan, kegiatan pelayanan paduan suara di gereja paroki bukan sekadar aktivitas ekstrakurikuler atau pengisi acara. Kegiatan ini merupakan bagian integral dari visi pendidikan yang diemban oleh sekolah-sekolah Strada, yaitu membentuk pribadi yang utuh — cerdas secara intelektual, kuat secara emosional, dan hidup secara spiritual.
Melalui pelayanan ini, para murid belajar banyak hal berharga yang tidak selalu bisa diajarkan di dalam ruang kelas:
Pertama, nilai kerendahan hati. Melayani sebagai paduan suara berarti menempatkan diri sebagai pelayan, bukan sebagai pusat perhatian. Murid-murid diajarkan bahwa suara mereka bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk dipersembahkan bagi kemuliaan Tuhan dan untuk membantu umat lain berdoa dengan lebih khusyuk. Ini adalah pelajaran kerendahan hati yang sangat mendalam.
Kedua, nilai tanggung jawab dan komitmen. Hadir dalam setiap latihan, menghafal lirik dan nada, datang tepat waktu pada hari pelaksanaan — semua ini mengajarkan murid tentang pentingnya tanggung jawab dan komitmen terhadap sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Ketiga, nilai kerja sama dan kebersamaan. Paduan suara adalah tentang harmoni, bukan tentang siapa yang paling keras suaranya. Setiap suara memiliki perannya masing-masing, dan keindahan hanya tercipta ketika semua suara bekerja sama. Pelajaran ini sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, di mana kemampuan berkolaborasi menjadi salah satu keterampilan paling penting di abad ke-21.
Keempat, penghayatan iman yang hidup. Dengan menyanyikan lagu-lagu liturgi, murid-murid tidak hanya menghafal kata-kata, tetapi juga merenungkan makna di baliknya. Mereka belajar bahwa iman bukan hanya sesuatu yang dipelajari dari buku, tetapi sesuatu yang dihidupi, dirasakan, dan diekspresikan melalui seluruh keberadaan mereka — termasuk melalui suara dan musik.
Kelima, rasa memiliki terhadap komunitas. Dengan melayani di Gereja Kristus Raja yang merupakan gereja paroki dari wilayah sekolah mereka berada, murid-murid membangun ikatan yang lebih kuat dengan komunitas beriman di sekitar mereka. Mereka tidak hanya menjadi “murid sekolah Strada”, tetapi juga bagian aktif dari keluarga besar Paroki Pejompongan.

Semangat Serviam yang Menghidupi Setiap Langkah
Motto Serviam — “Aku Mau Melayani” — bukan sekadar slogan yang terpampang di dinding sekolah atau tercetak di buku agenda murid. Semangat ini adalah napas yang menghidupi setiap kegiatan, setiap interaksi, dan setiap keputusan di lingkungan Strada Pejompongan.
Pelayanan paduan suara pada Perayaan Ekaristi 9 Agustus 2026 ini adalah salah satu manifestasi paling indah dari semangat tersebut. Ketika seorang anak TK dengan suara kecilnya yang masih terbata-bata tetap bernyanyi dengan penuh semangat di depan ratusan umat, ia sedang menghidupi Serviam. Ketika seorang guru yang seharusnya bisa menghabiskan hari Minggunya untuk beristirahat memilih untuk datang lebih awal ke gereja dan memastikan setiap anak siap tampil, ia sedang menghidupi Serviam. Ketika seorang karyawan sekolah yang bukan beragama Katolik tetap hadir untuk mendukung dan mendokumentasikan acara ini dengan penuh antusiasme, ia pun sedang menghidupi semangat melayani dalam arti yang paling universal.

Harapan ke Depan: Terus Bertumbuh dalam Semangat Melayani
Pelayanan paduan suara pada 9 Agustus 2026 ini diharapkan bukan menjadi titik akhir, melainkan sebuah langkah awal dari perjalanan panjang dalam menghidupi iman melalui talenta. Pihak sekolah berkomitmen untuk terus menciptakan ruang dan kesempatan bagi murid, guru, dan karyawan untuk melayani — baik di lingkungan gereja, sekolah, maupun masyarakat luas.
Rencana ke depan mencakup pembentukan paduan suara tetap yang lebih terstruktur, pengembangan kelompok musik liturgi yang melibatkan murid-murid dengan talenta instrumen, serta peningkatan frekuensi pelayanan di paroki dan kegiatan-kegiatan rohani lainnya. Selain itu, sekolah juga berencana untuk mengadakan retreat dan rekoleksi khusus bagi tim pelayanan liturgi agar mereka semakin memperdalam pemahaman tentang makna pelayanan yang mereka jalani.
“Kami ingin setiap anak yang pernah bersekolah di Strada Pejompongan membawa semangat Serviam ke mana pun mereka pergi. Bahwa di mana pun mereka berada, mereka selalu siap berkata, ‘Aku mau melayani.’ Dan pelayanan hari ini adalah salah satu benih yang kami tanam untuk itu,” demikian harapan yang disampaikan oleh pimpinan sekolah.
Semoga semangat melayani ini terus tumbuh, berakar kuat, dan berbuah lebat dalam setiap langkah perjalanan kita. 🌿
Salam Strada! Serviam — Aku Mau Melayani. 💙💛
Recent Comments